Habis baca artikel ini jadi bersyukur banget punya suami spt Mr. Ikhyanuddin Hasballah (memang nggak salah pilih hehehe......)
Padahal itu orang sejak awal nikah sudah sering ninggalin istri tugas di luar kota, jauh dari saudara dan sanak famili krn km masih hidup di pulau Jawa, tapi perhatiannya pada keluarga Masya Allah....mungkin itu yang membuat saya juga percaya penuh dan support habis pada semua pekerjaan dan kegiatan yang dilakukannya. Setelah pulang ke Aceh, juga masih tinggal beda kota, suami keterima PNS di Langsa, saya di Lhokseumawe, weekend menjadi hari-hari yang kami tunggu-tunggu. Tapi kadang jg beda dari harapan, Sabtu Minggu harus ngantor kejar laporan, apalagi kalo bukan ikhlas dan sabar saja yang ada di hati, saat itulah saya berdoa siang malam pada Allah agar suami bisa pindah ke Lhokseumawe. Singkat cerita, baru 1 tahun jadi PNS sudah bisa pindah ke Lhokseumawe, Masya Allah...Fabiayyiala irabbikuma tukazziban....
Begitu lahir anak ke-2 tepatnya di sore hari pd hari H, e... suami pamit harus berangkat S2 Jogja, semata mengharab ridho Allah bibir dan hati ini langsung meng-iya kan. Alhamdulillah tidak ada hari yang terlani dengan beban yang berat (krn mmg Allah tdk pernah memberi ujian diluar batas kemampuan hambanya), anak-anak pun tetap tumbuh dengan baik krn perhatian orangtua (ibu bapaknya) tetap utuh didapatkan. Bukankah dlm mendidik anak bagi seorang ayah, kualitas perhatian lebih utama daripada kuantitas pertemuan?
Berbeda dengan Ibu, kuantitas pertemuan dan kualitas dalam pengasuhan punya posisi yang sama pentingnya. Itu sebabnya saya berusaha keras memboyong anak-anak saat sekolah di LN. ALHAMDULILLAH semua dukungan dan pengorbanan saya terbayar, Allah selalu gerakkan suami saya untuk memperhatikan keluarganya, suami juga mensupport pekerjaan saya habis-habisan, mulai dari pekerjaan sebagai dosen sampai tugas-tugas di masyarakat. Disaat perempuan lain sangat sulit mendapat ijin suami untuk sekolah ke LN, malah suamiku memutuskan untuk menemaniku sekolah di LN, Masya Allah....Beliau juga tidak segan-segan membantu pekerjaan rumah tangga (cuci piring, nyapu, masak, btw suamiku lebih jago masak dari aku lho...hehehe). Alhamdulillah di kantor dihargai orang karena tanggungjawabnya, di rumah juga dicintai anak istri.
Akhir tahun dan awal tahun seperti ini adalah rutinitasnya untuk pulang larut malam karena pekerjaan penyusunan APBD di kantor, namun kecintaan keluarga padanya tidak pernah berkurang. Semoga Allah selalu memberi kami sakinah, mawaddah warahmah.
Dan hari ini si dia sedang ujin masuk S3 di luar kota, dan diriku disela-sela kesibukan membangun generasi peradaban kusempatkan hunting beasiswa S3 di sana sini, Allah lah yang tahu kapan tepatnya KUTTAB ini siap kutinggalkan untuk sementara waktu.
Masya allah.....hanya Allah lah yang tau apa-apa yang terbaik untuk keluarga kami. Semoga 4 orang anak perempuanku bisa menyaksikan, bagaimana seorang perempuan harus ikhlas dan berbesar hati untuk segala keadaan demi mensupport pekerjaan dan kegiatan suami, karena dibalik itu semua, Allah akan menggerakkan hati seorang laki-laki yang menjadi tulang punggung keluarga untuk berbuat lebih baik dari apa-apa yang telah dilakukan oleh istrinya. Selalu memohon jauh dari fitnah wanita, harta dan jabatan, aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar