Selembar surat beramplop putih tergeletak begitu saja di atas meja rias Rini. Surat itu telah membuat Rini berhari-hari tidak nyenyak tidur dan tidak selera makan. Tinggal empat hari lagi waktu bagi Rini untuk memberi keputusan, iya atau tidak. Keputusan yang sangat sulit di saat-saat sulit.
“Kucoba hubungi Nana ah, siapa tau dia bisa memberi aku saran”, bisik Rini dalam hati. Rini menekan satu persatu nomer pada keyboard Hpnya. Suara merdu bersumber dari Hp Nana tidak mampu membuat detak jantung Rini tenang. Rini sedang dirundung bingung, gundah dan galau. “Hallo Rin....,” suara lembut Nana menyapa ramah.
“Ada apa Rin, ada yang bisa kubantu? Masalah apalagi toh Rin?” tanya Nana dengan nada sedikit kesal.
“Lho, kok kamu tau aku ada masalah toh?” tanya Rini antusias.
“Lha aku yo dah hafal toh, nek kamu nekad hubungi aku tengah malam begini, itu tandanya kamu yo sedang ada masalah, pasti kamu tidak bisa tidur toh?” ucap Nana yakin. Rini hanya mampu menyungging senyuman tipis mendengar penjelasan Nana. Rini dan Nana sebenarnya bukan sahabat dekat, namun perkenalan tanpa disengaja suatu hari di pondok warung Indo membuat mereka menjadi akrab. Siang itu mereka saling mengawali senyum karena tertegun melihat kerudung cantik yang membalut kepala keduanya. Selebihnya, mereka hanya bicara biasa, saling memamerkan identitas dan bertukar nomor telepon. Setelah pertemuan itu keduanya menjadi semakin yakin dengan prinsip yang sedang mereka pertahankan. Mereka kerap bernostalgia dengan pengalaman ketika mempertahankan jilbab dihadapan agency yang membawa mereka ke Taiwan. “Ternyata masih ada ya, orang Indonesia yang berjilbab di negeri ini,” ucap mereka berdua serentak sambil mengukir senyum syukur, siang itu.
“Nana, bulan depan kontrakku berakhir, aku ditawari agency untuk lanjut, tapi aku masih bingung memutuskan, bagaimana menurutmu?” tanya Rini serius.
“Rin...rin., ditawari lanjut kok bingung, harusnya kalo diputusin kontrak itu yg bingung, piye toh!” sambut Nana setengah bergurau.
“Iya ya, kenapa mesti bingung, bukannya pekerjaan memang yang dicari semua orang, harusnya aku bersyukur dapat kesempatan bekerja lagi, bukannya bingung begini,” bisik Rini dari dalam hati.
“Aku kok dah bosan kerja ya Na, tapi tabunganku belum cukup masalahnya. Tapi aku heran dengan sahabatku Mela yang baru 3 tahun disini sudah berani tidak melanjutkan kontrak, dia berhenti menjadi BMI dan memutuskan untuk pulang ke Indonesia, katanya sih dia akan bekerja di Indonesia,” terang Rini.
“Siapa? Mela siapa? Aku seperti pernah mendengar nama itu,” tanya Nana penasaran. “Nama lengkapnya Mela Arjo, dari Purwodadi, aku yang mempromosikan pada dia untuk bekerja di Taiwan, hanya saja sesampai di sini kami tidak pernah berkomunikasi karena majikan Mela cukup disiplin dan sedikit kurang prikemanusiaan. Tidak sekalipun Mela diijinkan keluar rumah kecuali bersama dengan majikannya. Handphone pribadinya baru bisa aktif di tengah malam buta saat majikannya telah terlelap. Seringkali shalat fardhu pun dilakukan Mela secara diam-diam di kamar mandi,” terang Rini antusias. Rini berhenti sejenak. Ditariknya nafas dalam dalam. “Mela tetap tidak mau melanjutkan pekerjaan sekalipun ditawari bekerja di tempat yang sudah terbukti lebih baik,” sambung Rini dengan suara melemah.
“Itu karena Mbak Mela sudah ada persiapan, Rin!” cepat-cepat Nana menimpali. Mendengar komentar Nana, tanpa sadar garis-garis cekung terbentuk jelas di atas dahi Rini.
“Hah! Persiapan? Persiapan apaan?” Rini bertanya dengan setengah tertawa.
“Sudah mengemas barang-barang karena mau pulang maksudmu?” Ungkap Rini dengan penuh percaya diri.
“Bukan Rin, bukan itu maksudku, Mela itu sudah memiliki persiapan untuk kembali ke Indonesia sejak dia menginjak kaki di bumi Formosa ini,” terang Nana. Mulut Rini tampak terkunci menanti kalimat selanjutnya dari Nana. Meski pikirannya belum bisa mencerna, Rini tetap berusaha mengolah intelektualnya mencari-cari apa makna dibalik kalimat Nana barusan.
“Jujur, aku belum pernah bertemu Mela Arjo tapi aku cukup mengenal beliau”, lanjut Nana. Mendengar penjelasan Nana, kening Rini semakin kuat tarikannya.
“Tulisan beliau tidak pernah aku lewatkan, aku suka sekali cerpennya, apalagi puisi-puisinya, indah, menusuk dan begitu mewakili apa yang selama ini para BMI rasakan,” ungkap Nana dengan antusias.
“Nana, jangan-jangan sampeyan lagi gigau yo?” buru-buru Rini memotong pembicaraan Nana.
“Tulisan opo, Na? Mela kuwi menulis di majalah atau tabloid maksudmu? Apa nggak salahsampeyan Na? Wong Mela itu lulusan SMP kok iso-iso ne menjadi penulis…,” seru Rini sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai ungkapan ketidaksetujuan. “Sampeyannggak usah sok tau deh Mbak yu..,” hardik Rini dengan halus. “Aku, Rini Hastutiningsih, teman dekatnya Mela, aku sing lebih tau dari sampeyan,” terang Rini dengan suara agak tinggi. Nana pun naik pitam. Nana tidak sabar disepelekan Rini. “Oke, nek sampeyan nggak percaya, sesok minggu tak tunggu sampeyan di depan Pyramid pukul 11.00 teng, piye?” tantang Nana tajam.
“Meh ngopo?” Tanya Rini bego.
“Nek sampeyan tidak percaya, tak tunjukke bukti-buktine sok Minggu,” jawab Nana dengan suara agak tinggi.
“Oo…sampeyan mau memberi fakta atas omong kosong sampeyan barusan? Ok ok, sesokMinggu aku pasti datang, tunggu!” Rini balas menantang. Tut…tut....jaringan telepon keduanya terputus.
………………………………………
Pagi-pagi Rini sudah bangun. Janji pertemuan dengan Nana di Pyramid siang ini membuat Rini begitu penasaran. Tepat pada pukul 11.00 Rini sudah berada di area Pyramid, jantung kota Taichung. Rini berusaha mencari-cari sosok Nana. Pandangannya menuju ke semua wujud telur yang terbuat dari batu alam. Batu tersebut tersusun rapi mengelilingi taman di depan bangunan Pyramid. Para BMI biasa duduk-duduk di atas batu tersebut, santai melepas kebosanan setelah seminggu bekerja membanting tulang. Jam tangan Rini sudah menunjukkan pukul 12.00. Namun, batang hidung Nana belum kelihatan juga. Perasaan Rini semakin yakin bahwa semua informasi yang Nana berikan tentang Mela adalah omong kosong. Rini jengkel dan marah. Mukanya mulai panas dan dadanya pun sesak. Tiba-tiba sosok Nana muncul dihadapan Rini. Dengan sigap Rini berdiri. Emosinya sudah tidak terbendung lagi minta segera dikeluarkan. Tiba-tiba saja mata Rini hinggap pada bundel tebal yang diapit Nana. Pikirannya langsung melayang pada segala cerita kebesaran Mela yang pernah diungkap Nana.
“Ni, makan! Gubrakkk!” Nana melempar begitu saja bundel tebal itu di hadapan Rini sambil memutar badannya tanpa pamit. Rini terdiam seribu bahasa.
“Nana…Nana…tunggu,” jeritan melengking suara panggilan Rini tidak mampu menahan Nana berhenti. Rini menghela nafas panjang sambil menekan huruf demi huruf yang tertera pada keyboard Hpnya.
“Maaf Nana, aku cuma tidak menyangka saja, sekarang aku percaya dengan semua ceritamu tentang Mela, maafkan aku ya Na?!, jangan sampai persahabatan kita putus hanya karena salah paham sedikit,” tulis Nana dalam sms-nya kepada Nana.
Berhari-hari Rini menunggu balasan Nana. Akhirnya malam itu suara nada panggilan telepon Rini berbunyi juga. Spontan Rini melompat dari atas kasur untuk meraih HPnya. “Piye…sido mulih sampeyan?” Tanya Nana datar.
“Aku masih bingung Na, belum tak putuskan, aku masih penasaran dengan kisah hidup Mela,” jawab Rini terbata-bata.
“Apalagi yang sampeyan herankan? Wong ceritanya sudah jelas, semua cerpen dan puisi yang kutandai dengan stabilo kuning dalam majalah itu milik Mbak Mela. Kamu juga bisa lihat foto penulis di atasnya toh?” terang Nana dengan sabar.
“Bukan aku tidak percaya Nana, justru karena sekarang aku 100% percaya bahwa Mela yang tamatan SMP itu menjadi seorang penulis hebat, aku jadi bingung dibuatnya.” Sejenak Rini berhenti bicara, Rini menarik nafas panjang-panjang.
“Bagaimana bisa Mela menjadi penulis? darimana ide menulisnya, siapa yang mengajarkan dan mengajak dia menulis dan kapan dia sempat menulis? Wong selama 3 bekerja hanya sehari saja dia diijinkan untuk keluar rumah shalat Idul Fitri, selebihnya dia hidup dalam tekanan dan kerja keras di dalam rumah besar majikannya,” terang Rini antusias. “Aku benar-benar tidak percaya Na, kalo si Mela bisa mendapatkan banyak uang dan nama yang tersohor di kalangan BMI Taiwan karena menulis, kenyataan ini benar-benar tidak masuk akal bagiku,” sambung Rini sambil mengernyitkan dahinya berkali-kali.
“Bukan itu saja Rin, Mbak Mela itu juga telah memiliki ketrampilan yang orang lain belum tentu memilikinya, justru ketrampilan itulah yang sangat mahal harganya. Dia dengan percaya diri meninggalkan pekerjaannya sebagai BMI di Taiwan karena ia yakin di Indonesia ia bisa hidup lebih layak dan terhormat dengan ketrampilan barunya me-nu-lis!” ungkap Nana semangat. “Sampeyan mau seperti dia, Rin?” Tanya Nana dengan nada mengejek.
“Heh, tanya-tanya, sampeyan sendiri gimana? Persiapan apa yang sudah sampeyankerjakan?” Rini balas bertanya sembari mengeluarkan jurus mengejeknya. “Ho..ho..ho…jangan salah y, aku sedang mempersiapkan diri menjadi pengusaha jamur. Insya Allah hanya dua tahun lagi aku berada di sini, setelah itu dengan tabunganku ini aku akan membuka kuliner wisata jamur di Jogjakarta. Sebulan yang lalu aku sudah membeli sehektar tanah di wilayah Kaliurang yang sangat cocok dipakai untuk budidaya jamur. Dalam waktu dekat ini adikku yang bungsu akan membuat kontrak kerja dengan kelompok mahasiswa Pertanian dari Universitas Gadjah Mada. Mereka akan membentuk budidaya tanaman jamur dengan sistem bagi hasil. Sebagian modal akan kukirim dari sini Rin,” Nana menerangkan dengan penuh optimis.
Rini terdiam. Rini tidak mampu berkata apa-apa. Memorinya berputar pada nasib baiknya selama berada di Taiwan. Memiliki majikan yang baik, pekerjaan yang santai dan ringan, bisa jalan-jalan di setiap hari minggu bahkan tak jarang majikannya juga memberikannya bonus pakaian dan uang. “Namun apalah arti semua itu, hanya sedikit saja yang tersisa,” desah Rini lirih bersama penyesalan. “Nana, aku menyesal Na, hidupku telah dirampas orang lain, waktuku luangku di hari Minggu seringkali kuhabiskan berfoya-foya dan berduaan bersama kekasihku. Apalagi uang, aku hampir tidak mengenal yang namanya tabungan. Hanya sesekali saja uang dapat kukirim ke kampung, sisanya tak sadar terkuras habis untuk mencari kesenangan sementara,” Rini tidak mampu melanjutkan perkataannnya, air matanya sudah membasahi bantal yang sedari tadi dipeluknya.
“Sabar toh Rin, mulai sekarang rencanakan hidup baru, hidup ini harus ada tujuan, cita-cita dan target,” terang Nana dengan sabar. “Jadi bukan anak sekolah aja yang punya cita-cita Rin, kita yang hampir kepala empat ini juga harus punya cita-cita,” ungkap Nana sambil berseloroh. “Cita-cita itu harus tinggi Rin, harus hebat dan bermartabat! Menjadi BMI itu bukan cita-cita melainkan batu loncatan menuju cita-cita,” sambung Nana. “Ngertisampeyan, Rin?” Tanya Nana mengakhiri kalimatnya.
“Nggih…kulo ngertos..” jawab Rini datar dengan menggunakan Bahasa Jawa halus.
“Wis, sesok Minggu ketemu aku maneh di Pyramid, sampeyan tak ajak ke suatu tempat yang menghasilkan uang tambahan, tapi sampeyan harus janji kalo sampean telah menemukan cita-cita dan target hidup, lengkap dengan tahun dan strategi atau cara untuk mencapainya, piye? hou bu hou?”
“Hou,” jawab Rini mantap.
Sesaat kemudian Nana mengakhiri pembicaraannya melalui telepon, sedang Rini masih termangu memikirkan cita-cita dan target dalam hidupnya. Rini terus berfikir keras sambil membayangkan penghasilan tambahan dari menyulam syal pada setiap hari minggu. “Aku akan bersungguh-sungguh mengikuti kegiatan ini, kegiatan yang dikoordinir Nana di setiap hari Minggu di Mesjid kota,” gumam Rini sendirian. Sudah setahun Nana mengajar cara menyulam kepada para BMI, hasil rajutan mereka pasarkan kepada penjual di pasar Taichung. Semua anggota yang telah bergabung di kegiatan ini telah merasakan manfaatnya. Selain mendapatkan pendapatan tambahan, mereka juga merasakan kesenangan berkumpul dengan teman-teman setanah air tanpa harus meronggoh simpanannnya.
Taichung-Taiwan
February 16, 2012 at 8:41am

Tidak ada komentar:
Posting Komentar